oleh

Belajar Tawakal Dari Pedagang Kelapa Bakar

Bandarlampung – Setiap bisnis apapun pasti memiliki resiko. Apalagi berdagang dalam situasi Pandemi seperti ini.

Bisnis skala besar maupun kecil ikut terdampak pula dari adanya wabah yang berdasarkan informasi berasal dari Wuhan, China.

Hal ini juga dialami Jaya. Seorang pedagang Kelapa Bakar yang berjualan diseputar jalan Imam Bonjol, Gedung Air, Bandarlampung.

Sambil menyiapkan kelapa bakar, Jaya bercerita tentang kondisi saat ini yang sangat terasa sulit dialami olehnya.

Sebelum wabah ini menyebar, jaya mampu menghabiskan 40 sampai 60 kelapa muda murni dan kelapa bakar perhari.

Namun, hal tersebut tak menyurutkan semangatnya untuk terus berdagang demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Pria berumur 39 tahun ini telah berdagang hampir emapt tahun lamanya. Awalnya ia hanya menjual kelapa ijo saja, lantaran tren kelapa bakar mulai ramai di Bandarlampung, maka ia mencoba untuk menyajikan kelapa bakar sebagai salah satu menu warungnya.

BACA JUGA :  Warga di Tanjung Seneng Diduga Timbun Migor Curah Subsidi



Meskipun pedagang Kelapa Bakar banyak menjamur di sepanjang jalan Imam Bonjol, tetapi ia tak takut rejekinya berkurang dari persaingan tersebut.

Terbukti dengan masih banyak pelanggan yang membeli kelapa bakarnya. Pembeli tersebut dapat menentukan sendiri bahan yang akan dicampurkannya kedalam kelapa bakar tersebut.

Harganya memang lebih mahal daripada kelapa murni, untuk kelapa bakar yang telah dicampurkan rempah-rempah, madu, susu dan telur bebek, Ia mematok harga mulai dari 15 ribu sampai 20 rb.

Meskipun lebih mahal, harga tersebut sepadan dengan khasiat yang akan didapatkan. Memang sampai saat ini belum ada studi yang membuktikan khasiat dari kelapa bakar.

Jaya menjelaskan, berdasarkan pengakuan salah satu pembeli, kelapa bakar mampu menghancurkan batu ginjal.

“Kata pelanggan yang sering membeli kelapa bakar, setelah meminum kelapa bakar secara rutin selama 3 bulan lamanya, dia sembuh dari penyakit batu ginjalnya,” kata Jaya.

Musim penghujan seperti ini, tentu berdampak menurunya penghasilannya, namun ia tetap bersyukur.

“Kalau musim hujan begini pastinya lakunya sedikit, ya syukur-syukur bisa laku 20 biji sehari udah alhamdulillah,” bebernya.

Dengan ramahnya, bapak satu anak ini melayani setiap pelanggan yang berkunjung untuk membeli es kelapa maupun kelapa bakar.

Sosok pedagang yang sepertinya lah yang harus dicontoh, Jaya selalu berusaha menyukuri rejeki yang ia dapatkan. Bukan hanya banyak dan laris semata-mata yang dia kejar, tetapi keberkahan dalam berdagang pun tak ia lupakan.

Jaya merupakan figur yang bersemangat dan bekerja keras dalam mencari rejeki halal. Ia menyadari bahwa setiap rejeki, jodoh, maut sudah ada yang mengatur.

Selain ikhtiar, jaya memasrahkan rejeki sepenuhnya kepada ALLAH SWT., hal ini yang jarang dijumpai oleh pedagang pada umumnya.

BACA JUGA :  Silaturahmi Perantauan Lampung, 20 UKM Terima Uang Pembinaan Rp 200 Juta

 

addgoogle

Komentar